Di balik tembok tinggi dan pintu besi yang kokoh, suasana berbeda tampak di salah satu ruangan Rutan Kelas I Makassar. Setiap pagi, sejumlah warga binaan berkumpul di Sanggar Belajar—sebuah ruang sederhana yang kini menjadi tempat mereka menimba ilmu membaca dan menulis.
Program ini merupakan bagian dari upaya pembinaan yang dilakukan pihak Rutan Makassar. Tujuannya sederhana namun bermakna besar: memberantas buta aksara di kalangan warga binaan, sekaligus menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.
Dengan penuh kesabaran, para pengajar (Staf BHP) membimbing warga binaan yang sebagian besar belum lancar mengenal huruf dan menulis kata. Lembaran buku tulis dan papan tulis menjadi saksi perjuangan mereka dalam mengeja satu per satu huruf hingga akhirnya mampu merangkai kalimat.
Senyum bangga terpancar setiap kali mereka berhasil membaca dengan lancar atau menulis nama sendiri tanpa bantuan. Bagi sebagian orang, hal itu mungkin tampak sederhana, tetapi bagi mereka, itu adalah pencapaian luar biasa—sebuah langkah baru menuju perubahan diri yang lebih baik.
Kepala Rutan Makassar menuturkan bahwa kegiatan belajar membaca dan menulis ini merupakan bagian penting dari program pembinaan kemandirian dan kepribadian. “Kami ingin memastikan bahwa setiap warga binaan mendapatkan kesempatan untuk berkembang, tidak hanya selama menjalani masa hukuman, tetapi juga sebagai bekal ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Melalui Sanggar Belajar, Rutan Makassar berharap dapat menanamkan nilai-nilai positif, menumbuhkan kepercayaan diri, dan membuka jalan bagi warga binaan untuk memiliki masa depan yang lebih cerah. Karena di balik setiap huruf yang mereka pelajari, tersimpan harapan untuk menulis ulang kisah hidup mereka—kisah tentang perubahan, kesempatan, dan harapan baru.
0 Comments
Belum ada komentar